Kata ‘Kerinci’ dalam masyarakat Kerinci diucapkan dalam dialek yang berbeda-beda. Perbedaan ini dipengaruhi oleh cara melafadkan bahasa Kerinci oleh masing-masing dusun yang juga berbeda dan mempunyai kekhasan tersendiri. Masyarakat Sungai Penuh dan Pondok Tinggi yang tinggal berada di kota Sungai Penuh biasa melafadkannya dengan sebutan ‘Kincai’, masyarakat dusun Rawang, Koto Lanang, dan Sungai Tutung yang berada di sekitar Kota Sungai Penuh biasa menyebutnya ‘Kincei’. Masyarakat Kerinci bagian utara seperti dusun Semurup dan Siulak menggunakan sebutan ‘Kinci’, sedangkan orang Kerinci bagian Selatan seperti dusun Pulau Sangkar, Lempur, dan Temiai menyebutnya ‘Krinci’. Demikian juga dengan masyarakat di sekitar Kerinci seperti Minangkabau dan Jambi biasa menyebutnya ‘Kurinci’. Orang Belanda yang pernah menduduki Kerinci menggunakan sebutan ‘Korintji’ sedangkan orang Inggris menyebutnya ‘Korinchi’ (Djakfar, 2001).
Asal kata nama Kerinci tidak diketahui secara jelas, namun terdapat legenda yang menjelaskan asal penggunaan nama Kerinci. Ada tiga legenda yang menceritakan kisah terciptanya kata ‘Kerinci’ yaitu :
1. Legenda yang menyatakan bahwa nama ‘Kerinci’ berasal dari kata ‘Kunci’. Kata ini memiliki arti bahwa daerah Kerinci merupakan daerah yang tertutup dan terkunci. Maksudnya adalah daerah Kerinci tidak berinteraksi atau berhubungan dengan dunia luar dan sebaliknya. Hal ini disebabkan kondisi geografis Kerinci yang dikelilingi oleh pegunungan bukit barisan, hutan lebat, topografi yang bergelombang, dan banyak terdapat hewan buas sehingga membuat orang beranggapan bahwa Kerinci merupakan daerah yang tertutup.
2. Legenda yang menyatakan bahwa nama ‘Kerinci’ berasal dari dua kata, yaitu ‘Kering’ dan ‘Cair’. Legenda ini menceritakan bahwa dulu Kerinci merupakan sebuah danau yang sangat luas yang memiliki sebuah pulau kecil ditengah-tengahnya yaitu Tanah Cuguk. Seluruh daerah di kaki-kaki bukit merupakan daerah rawa basah. Pada saat musim kemarau rawa-rawa ini mengering sehingga membuat daerah daratan menjadi semakin luas, sedangkan pada musim penghujan daratan ini kembali basah menjadi rawa sehingga lahan kering menyempit. Fenomena alam inilah yang menyebabkan nama Kerinci berasal dari kata ‘Kering’ dan ‘Cair’.
3. Kisah setelah kedatangan suku bangsa Melayu ke daerah Kerinci. Pada saat itu Kerinci belum memiliki nama, maka datanglah suku bangsa lainnya dari hulu sungai Batanghari yang menyusuri Batang Merangin hingga sampai ke hulunya. Mereka melihat di hulu sungai tersebut sudah ada manusia yang mendiami sehingga mereka menyebutnya orang Kerinci. Dalam bahasa mereka ‘Kerin’ berarti Hulu, sedangkan ‘ci’ berarti Sungai. Jadi Kerinci berarti Hulu Sungai. Suku inilah yang kemudian memperkenalkan nama Kerinci ke dunia luar, namun orang-orang yang mendiami daerah hulu sungai ini sendiri tidak tahu namanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar